Cinta Tak Harus Memiliki

18 08 2008

Ibu saya pernah bertutur kalau cinta itu harus dirawat dan ditumbuhkembangkan. Rupanya kata-kata itu terus bersemayam di alam bahwa sadar saya. Waktu itu saya kelas tiga SMP. Masa-masa yang sama sekali belum pernah mengenal arti cinta. Andai saat itu, saya sudah sedikit paham akan arti cinta, mungkin saja akan saya tanyakan bagaimana menumbuhkan cinta itu. Tapi, sayang. Ya sayang sekali, usia saya belum mampu menjangkau arti cinta kasih itu. Maka, tak mengherankan, saya hanya menganggukkan kepala ketika ibu mengutarakan nasihat-nasihat cinta.
 Setelah beranjak SMP, dan harus berpisah dengan ibu, saya kembali tersadar dengan ungkapan cinta itu. Tapi, lagi-lagi, selama tiga tahun mengenyam pendidikan sekolah berasrama, saya tak jua sanggup memaknai cinta. Pernah saya membuka kamus bahasa Indonesia lalu mencari makna cinta, tapi saya tak jua mampu memaknainya. Wajar. Anak desa seperti saya ini tak pernah punya pikiran jatuh cinta kepada teman wanita. Entah kenapa. Saya pun tak tahu menahu.
 Beranjak kuliah, tanda-tanda cinta itu mulai tumbuh di dalam lubuk hati ini. Rupanya, saya mulai tertarik dengan seorang gadis berkulit putih, cantik, dan berakhlak baik. Tapi, lagi-lagi, rasa itu tak mampu saya ungkapkan kepadanya. Karena memang, bagi saya, usia-usia seperti itu, tak pantaslah seorang lelaki seperti saya harus berterus terang kepada lawan jenis. Pikirku, bukankah memendam cinta (tak mau mengutarakan kepada sang kekasih) mengalirkan banyak pahala di sisi Tuhan. Semakin kita memendamnya, dan tentunya menunggu waktu yang tepat mengungkapkannya, maka semakin bertambah banyaklah pundi-pundi kebaikan saya. Begitulah pandangan subjektif saya.
 Namun, hati saya bergejolak. Hati saya membara, mengkhawatirkan keberadaannya. Dalam alam sadar saya bergeliat pertanyaan yang tak perlu saya risaukan. Begini pertanyaan yang mencuat dari hati kecil saya: bagaimana kalau kekasih yang saya cintai itu menjadi milik orang lain. Lagi-lagi, pertanyaan ini semakin menggelora, menyatu, bahkan menggerogoti alam kehidupan keseharian.
 Tak mengherankan, jika sang kekasih mulai dekat dengan seseorang, saya mulai curiga, was-was, dan rasa khawatir mendalam. Prasangka buruk mulai membanjiri lubuk hati ini. “Jangan-jangan, dia tak menjadi milikkku lagi. Jangan-jangan dia akan menjadi milik orang lain. Oh cintaku.”
 Saya percaya seseorang yang telah terbuai dalam cinta pasti memahaminya. Bagaimana tidak, kalau hati sudah menyatu maka tak ada yang mampu memisahkannya. Bahkan gunung uhud pun berani dijangkaunya asalkan bertatap dengan sang kekasihnya. Sehingga, tak mengherankan, jika banyak orang rela mengorbankan apa pun demi mengejar kekasih.
 Beberapa orang kawan menyarankan saya sesegera mungkin “menembakkan” kata-kata cinta padanya. Tapi, lagi-lagi, satu keyakinan saya yang tetap melekat dalam sanubari yaitu kalau jodoh sudah pasti tak kan lari kemana. Dalam redaksi lain, kalau dia memang ditakdirkan menjadi kekasihku, maka tak perlu khawatir. Toh, sampai waktunya, ketika saya benar-benar siap, pasti ia tak akan disabet orang lain. Baca entri selengkapnya »





Cara Ini Ampuh Sekali untuk Mencari Jodoh/Teman/Sahabat

2 07 2008

Saya yakin Anda punya sahabat sejati dalam hidup ini. Saya yakin sekali Anda paham benar bagaimana berinteraksi dengan teman-teman Anda. Teman-teman Anda itulah yang—secara tidak langsung—membawa Anda pada kesuksesan hidup. Oleh sebab itu, kita mesti berhati-hati dalam berkawan.

                Saya ajak Anda untuk saling berbagi. Menurut Anda teman/kawan/jodoh bagaimanakah yang harus kita pergauli dengan baik. Silahkan beri komentar Anda di blog ini.  Mudah-mudahan komentar Anda menjadi inspirasi banyak orang. Mari kita berburu kebaikan!!!





Keberanian Mengajukan Lamaran Cinta(1)

29 06 2008

 “Menuju mahligai pernikahan butuh keberanian,” begitulah pesan ibu saya. Saya mulai penasaran apa benar menikah itu butuh keberanian. Kalau memang butuh keberanian, kira-kira keberanian seperti apa. Semua orang—termasuk Anda—pasti sudah tahu menuju pelaminan kita harus berani mengungkapkan rasa cinta kita kepada sang calon. Masalahnya apakah kita punya nyali menyampaikan rasa itu. Tak jarang kita dapati mereka yang benar-benar mati langkah ketika mengungkapkan rasa di depan sang calon.

NB:  Oh ya, saya ajak Anda bergabung di blog carisahabat ini untuk saling bertukar link (alamat blog). Silahkan (bagi Anda yang ingin blognya dikunjungi oleh ikhwan/akwat (laki/perempuan)) mengisikan komen dan menyertakan alamat blognya. OK. Baca entri selengkapnya »





Yuk Berburu Jodoh/Teman/Sahabat sekarang juga!!!

29 06 2008

Sekarang ini, soalan mencari teman hidup kayaknya betapa sangat mudah. Kita bisa saling berkenalan satu sama lain. Saling menyapa. Saling menasehati. Di sisi lain, banyak juga sebagian diantara kita yang tak jua memperoleh teman. Kalau pun memiliki teman jumlahnya sangat terbatas. Padahal, Rasulullah mensyaratkan memperbanyak teman (saling bersilaturahim, kenal mengenal) dapat mendatangkan banyak rezeki dan memperpanjang umur. Nyatanya, dengan perlajuan dunia teknologi dan informasi sekarang ini, tak lagi menghalangi kita untuk mengenal orang lain di penjuru dunia mana pun.

            Tentunya, fenomena tersebut sangat potensial untuk lebih memperkuat ikatan persaudaraan sesama mulim. Kemajuan teknologi sebaiknya kita manfaatkan sebaik mungkin untuk kebahagiaan hidup kita. dan salah satu cara mencapai kebahagiaan diri itu dengan sesering mungkin saling menyapa antara satu orang dengan orang lain. Inilah yang saya namakan semangat ukhuwah.

            Semangat ukhuwah inilah yang sudah sejak lama Rasulullah mendengungkannya. Rasulullah memerintahkan kita memperkuat tali ukhuwah satu sama lain. Tidak pandang bulu. Ikhwan dan akhwat, tua muda, kaya dan miskin, dan seterusnya. Kita harus saling berataruf, saling mengenal satu sama lain.

            Terus terang, dua tahun lalu, saya baru sadar bahwa betapa dahsyatnya perkembangan internet. Saya terpukau dan banyak-banyak bersyukur. Karena apa? Coba bayangkan saja, saya bisa menjalin hubungan dengan teman-teman di Mesir hanya melalui chating. Saya tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk saling mengenal dengan teman-teman di timur tengah sana. Cukup duduk dua jam di warnet, saya sudah bisa saling bertegur ria dengan teman-teman di tempat lain. Benar-benar luar biasa!

            Bukan itu saja, melalui web blog dan friendster saya bisa menjaga tali ukhuwah dengan para rekan-rekan saya seperjuangan. Oh, betapa indah…dan indahnya hidup ini. saya bisa membaca kisah-kisah keseharian teman-teman saya. Dengan begitu, kerinduan saya telah terobati.

            Yang lebih indah lagi…seorang teman saya rupanya bertaaruf dengan seorang akhwat melalui chating. Tetap sesuai dengan syariat. Cukup mengajak sang akhwat berbincang-bincang yang didampingi oleh muhrimnya melalui conference. Jadi, yang ikut chating ya si akhwat, muhrimnya, dan teman saya itu.   

            Perkembangan teknolongi (seperti internet) menginspirasi saya menghidupkan suasana saling bersilatuhramih yang islami. Oleh sebab itu, saya buat blog ini. Mudah-mudahan blog ini bisa memperkuat tali ukhuwah sesama muslim, menjadi media saling nasehat menasehati, dan saling kenal mengenal.

            Silahkan bapak/ibu, ikhwan/akhwah, ustadz/ustadzah bergabung dalam blog ini. Berikut tata cara bergabung dengan blog saya ini:

  • Sebaiknya bapak/ibu, ikhwan/akhwat, saudara/saudari memiliki blog di wordpress (kalau belum punya silahkan membuatnya terlebih dahulu)
  • Silahkan berkomentar di blog ini dan sertakan alamat blog Anda (yang sudah Anda buat di wordpress)
  • Kenalkan sepintas saja diri Anda, laki-laki atau perempuan

Dibawah komentar Anda, catumkan alamat blog Anda. Nah, alamat blog Anda akan saya catumkan dalam blog ini pada kolom link. Dengan begitu, teman-teman bisa saling mengenal dengan menklik alamatnya di blog saya.

Akhirnya, saya tunggu komentar dan alamat blog Anda. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

Salam Ukhuwah.

Rusdin S. Rauf, penulis buku Quranic Law of Attraction dan buku-buku islam lainnya. 

           





Hello world!

7 06 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.